Pak Jamilun kedatangan anaknya yang bernama Jamal sekeluarga yang
hidup di luar kota. Dia senang sekali kedatangan anak-cucunya. Lebih-lebih Pak
Jamilun sudah lama tidak berjumpa dengan mereka. Karenanya, dia meminta mereka
agar bermalam barang satu-dua malam untuk melepas rindunya, terutama dengan
cucunya yang masih kecil, lagi lucu-lucunya. Pada malam pertama mereka
bermalam, Pak Jamilun tidur dengan cucunya yang baru dua tahun usianya itu. Dia
sayang-sayang cucunya. Dia peluk-peluk cucunya hingga lelap tidur. Jarum besar
jam menunjuk angka 12 berhimpitan dengan jarum panjang, alias tepat jam 12
malam, cucunya bangun. Sang cucu berbisik di telinga kakeknya; ”Kek, aku mau
nyanyi...” Pikir Sang Kakek, ini anak lagi ngigau. Kemudian Sang Kakek jawab, ”
.. ya sudah kalau mau nyanyi, nyanyi saja di telinga kakek, jangan
keras-keras....” Sang Kakek terperanjat, kaget bangun, merasa telinganya basah.
”Eh telinga kakek jangan dikencingi...” seru Sang Kakek menghentikan perilaku
cucunya. Basah kuyup sudah telinga kakek dengan air kencing cucunya. Pagi hari,
- sehabis bangun tidur- Pak Jamilun langsung ceritakan kepada Jamal tentang
kejadian semalaman; Jamilun : ”Anakmu, tadi malam mengencingi telingaku...”
Jamal : ”... kok bisa begitu?” Jamilun : ”Awalnya..., anakmu itu bisik-bisik di
telingaku, katanya ”mau menyanyi”. Lalu aku katakan:” ya sudah, kalau mau
menyanyi, nyanyilah di telinga kakek jangan keras-keras”. Jamal : ”Hm...,
terus....” Jamilun : ”Eh tahunya, TELINGAKU DIKENCINGI, wah... wah... Jamal :
”Ha ha ha....” Jamilun : ”Loh..., kamu kok malah ketawa? Kamu kan ayahnya, ndak
tahu mengajar sopan-santun !” Jamal : ”..begini sabar Pak, aku itu membahasakan
kencing kepadanya dengan ”menyanyi” agar kelihatan santun..” Jamilun :
”...maksudnya?” Jamal : ”...setiap kali anakku mau buang air kecil, dia mesti
berkata; MAU BERNYANYI, agak santunlah.... lebih-lebih ketika di rumah ada tamu
masih dijamu makan, misalnya. Jamilun : ” Wah... wah..., aku yang kena
batunya.... Pikirku, mau menyanyi sungguhan. Masyaallah...! Dari kisah pendek
di atas dapat dipetik paling tidak tiga hikmah : 1. Tujuan yang baik tidak
selalu menghasilkan buah yang baik, manakala caranya tidak tepat, seperti dalam
kisah di atas. Membahasakan kencing dengan menyanyi, tujuannya baik agar tampak
tidak jorok tapi caranya tidak tepat. Justru mengakibatkan lebih jorok. 2. Anak
kecil belum memiliki kemampuan analisis maksimal, sehingga akan sangat
bergantung pada pendidikan lingkungan dalam hal ini keluarga. Karenanya, jangan
memberikan pendidikan yang keliru kepada anak sekalipun tujuannya baik. 3.
Salah didik pada anak sekecil apapun akan beresiko besar. Sebab usia anak-anak
adalah usia pembentukan karakter. Sekian, terimakasih.... (17 April 2012, Abil As'adain)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan anda berkomunikasi dan bersilaturrohim