Kamis, 26 April 2012

JAMILUN SIAL, TELINGANYA DIKENCINGI

Pak Jamilun kedatangan anaknya yang bernama Jamal sekeluarga yang hidup di luar kota. Dia senang sekali kedatangan anak-cucunya. Lebih-lebih Pak Jamilun sudah lama tidak berjumpa dengan mereka. Karenanya, dia meminta mereka agar bermalam barang satu-dua malam untuk melepas rindunya, terutama dengan cucunya yang masih kecil, lagi lucu-lucunya. Pada malam pertama mereka bermalam, Pak Jamilun tidur dengan cucunya yang baru dua tahun usianya itu. Dia sayang-sayang cucunya. Dia peluk-peluk cucunya hingga lelap tidur. Jarum besar jam menunjuk angka 12 berhimpitan dengan jarum panjang, alias tepat jam 12 malam, cucunya bangun. Sang cucu berbisik di telinga kakeknya; ”Kek, aku mau nyanyi...” Pikir Sang Kakek, ini anak lagi ngigau. Kemudian Sang Kakek jawab, ” .. ya sudah kalau mau nyanyi, nyanyi saja di telinga kakek, jangan keras-keras....” Sang Kakek terperanjat, kaget bangun, merasa telinganya basah. ”Eh telinga kakek jangan dikencingi...” seru Sang Kakek menghentikan perilaku cucunya. Basah kuyup sudah telinga kakek dengan air kencing cucunya. Pagi hari, - sehabis bangun tidur- Pak Jamilun langsung ceritakan kepada Jamal tentang kejadian semalaman; Jamilun : ”Anakmu, tadi malam mengencingi telingaku...” Jamal : ”... kok bisa begitu?” Jamilun : ”Awalnya..., anakmu itu bisik-bisik di telingaku, katanya ”mau menyanyi”. Lalu aku katakan:” ya sudah, kalau mau menyanyi, nyanyilah di telinga kakek jangan keras-keras”. Jamal : ”Hm..., terus....” Jamilun : ”Eh tahunya, TELINGAKU DIKENCINGI, wah... wah... Jamal : ”Ha ha ha....” Jamilun : ”Loh..., kamu kok malah ketawa? Kamu kan ayahnya, ndak tahu mengajar sopan-santun !” Jamal : ”..begini sabar Pak, aku itu membahasakan kencing kepadanya dengan ”menyanyi” agar kelihatan santun..” Jamilun : ”...maksudnya?” Jamal : ”...setiap kali anakku mau buang air kecil, dia mesti berkata; MAU BERNYANYI, agak santunlah.... lebih-lebih ketika di rumah ada tamu masih dijamu makan, misalnya. Jamilun : ” Wah... wah..., aku yang kena batunya.... Pikirku, mau menyanyi sungguhan. Masyaallah...! Dari kisah pendek di atas dapat dipetik paling tidak tiga hikmah : 1. Tujuan yang baik tidak selalu menghasilkan buah yang baik, manakala caranya tidak tepat, seperti dalam kisah di atas. Membahasakan kencing dengan menyanyi, tujuannya baik agar tampak tidak jorok tapi caranya tidak tepat. Justru mengakibatkan lebih jorok. 2. Anak kecil belum memiliki kemampuan analisis maksimal, sehingga akan sangat bergantung pada pendidikan lingkungan dalam hal ini keluarga. Karenanya, jangan memberikan pendidikan yang keliru kepada anak sekalipun tujuannya baik. 3. Salah didik pada anak sekecil apapun akan beresiko besar. Sebab usia anak-anak adalah usia pembentukan karakter. Sekian, terimakasih.... (17 April 2012, Abil As'adain)

Minggu, 15 April 2012

JAMILUN MASUK SORGA KARENA KENTUT

Oleh Abil As’adain

Jamilun meninggal dunia, malam harinya salah seorang kyai dari Jamilun bermimpi bertemu dengan Jamilun, berpakaian serba putih bersih dan wajahnya bersinar. Dalam mimpinya Sang kyai ingat bahwa Jamilun sudah mati. Kemudian terjadi dialog antar Sang Kyai dengan santrinya, Jamilun:

Kyai : ” Assalamu’alaikum, bagaimana keadaanmu sekarang?”
Jam : ” Alhamdulillah baik-baik saja”
Kyai : ”Mas Jamilun, sekarang kelihatan bahagia...”
Jam : ”Ya Pak Kyai, sekarang saya sudah ada di sorga...”
Kyai : ”Mas, apa amalmu yang membuat kamu memperoleh keistimewaan dari Allah swt seperti sekarang ini ...” (Kyainya terkesan heran seorang Jamilun masuk sorga).
Jam : ”Pak Kyai, saya tidak seperti Pak Kyai rajin jama’ah, rajin puasa, rajin silaturrohim, atau rajin ibadah lainnya.
Kyai : ”...terus bagaimana, Mas?
Jam : ”Ceritanya begini Pak Kyai, pada saat saya sedang nunggu kios saya, ada seorang gadis menghampiri kios saya bermaksud membeli sesuatu, tiba-tiba saya dengar suara kentut nyaring sekali. Dugaan saya, suara ketut bersumber dari gadis cantik ini. Ternyata dugaan saya benar, wajah gadis ini yang semula segar cantik berubah menjadi pucat kuning hilang cantiknya, Pak Kyai, ...” Seakan gadis tersebut sedang menahan rasa malu yang sangat berat. Khawatir dikatakan, ”...masak gadis cantik kok ketutnya nyaring..”
Lalu saya sapa, ” Ada apa mbak, mau beli apa? ” Dia jawab,”... kacang ini sebungkus, harganya berapa?” Jawab saya, ” Ya kacangnya besar-besar, mau beli Mbak? ”
SAYA BERLAGAK SEPERTI ORANG TULI, yang tidak bisa mendengar samasekali. Akhirnya, mata anak gadis tersebut langsung menatap muka saya kuat-kuat, seakan menyakinkan orang yang sedang ditanya ini benar-benar tuli, apa tidak. Sebab jawabannya kok tidak nyambung samasekali. Raut wajah gadis yang pucat pun kemudian berangsur pulih kembali, menjadi segar cantik, tidak malu lagi. Sepertinya ia menyakini saya tuli beneran sehingga tidak mendengar suara ketutnya.
Kyai : Hm...hm....
J : Pak Kyai..., inilah yang membuat Allah menghapus segala salah-dosa saya.
Kyai : Subhanaallah....
Alkisah sekian. Semoga bermanfaat....

Dari kisah pendek di atas dapat dipetik paling tidak empat hikmah :

1. Tidak setiap sikap pura-pura itu tercela. Kadang sikap pura-pura itu bisa terpuji, seperti yang dilakukan Jamilun.
2. Menyembunyikan aib saudara seiman adalah sangat dianjurkan dan sangat berpahala. Ada sebuah hadits Nabi yang artinya, - kurang lebih- ”Barangsiapa yang menyembunyikan aib saudaranya yang seiman niscaya Allah menghapus aib-aibnya di akherat...”
3. Tidak boleh merendahkan derajat seseorang, karena bisa jadi orang yang direndahkan lebih tinggi derajatnya di sisi Allah swt daripada orang yang merendahkan. Sebagaimana Jamilun yang terkesan dipandang rendah karena tidak rajin ibadah.
4. Amal baik sekecil apapun akan mendapat balasan yang lebih baik dari Allah swt, seperti yang dialami Jamilun. Sekian, terimakasih.... (11 April 2012, Abil As'adain).

Selasa, 10 April 2012

JAMILUN BERTINGKAH ANEH




Oleh, Abil As'adain

Pak Jamilun bertingkah aneh, pada saat isterinya meninggal dunia ditengah para tetangga datang melayat di rumahnya, Pak Jamilun tiba tiba melangkahi tubuh mayat isterinya berulang-ulang. Para pelayat kaget, - ” astaghfirollahal’adidzim kenapa Pak Jamilun tingkahnya seperti ini ?” (gumam mereka). ”Pak Jamilun hentikan !! istighfar Pak Jamilun !!!” seru mereka mencegah Pak Jamilun yang sedang bertingkah aneh itu.
Jawab Pak Jamilun: ”...ini permintaan almarhumah isteri saya, sewaktu ia masih hidup, ia selalu berkata kepada saya, ” KALAU KAMU MAU MENIKAH LAGI, LANGKAHI MAYATKU”.
Sekian, alkisah.

Dari kisah pendek tsb, dapat dipetik minimal tiga hikmah:
1. Kejujuran manakala dilakukan kadang-kadang dipandang aneh dan bodoh, seperti yang dilakukan Pak Jamilun.
2. Keangkuhan pada akhirnya akan menjadi musnah, seperti yang dilakukan oleh isteri Pak Jamilun. Isteri Pak Jamilun mau dimadu, marah-marah berkata ” KALAU KAMU MAU MENIKAH LAGI, LANGKAHI MAYATKU” padahal, yang namanya ajal tidak ada yang tahu kapan mau datang. Sedangkan Poligami sendiri dibenarkan oleh agama.
3. Keangkuhan akan terbalas kehinaan. Contohnya; isteri Pak Jamilun yang angkuh melawan suaminya sehingga mengatakan ” KALAU KAMU MAU MENIKAH LAGI, LANGKAHI MAYATKU” pada saat mati, mayatnya dilangkahi (isyarat kehinaan) oleh sang suami.
Semoga bermanfaat...., amin. (1 April 2012, Abil As'adain)