Oleh
Abil As’adain
Jamilun
meninggal dunia, malam harinya salah seorang kyai dari Jamilun bermimpi bertemu
dengan Jamilun, berpakaian serba putih bersih dan wajahnya bersinar. Dalam
mimpinya Sang kyai ingat bahwa Jamilun sudah mati. Kemudian terjadi dialog
antar Sang Kyai dengan santrinya, Jamilun:
Kyai
: ” Assalamu’alaikum, bagaimana keadaanmu sekarang?”
Jam
: ” Alhamdulillah baik-baik saja”
Kyai
: ”Mas Jamilun, sekarang kelihatan bahagia...”
Jam
: ”Ya Pak Kyai, sekarang saya sudah ada di sorga...”
Kyai
: ”Mas, apa amalmu yang membuat kamu memperoleh keistimewaan dari Allah swt
seperti sekarang ini ...” (Kyainya terkesan heran seorang Jamilun masuk sorga).
Jam
: ”Pak Kyai, saya tidak seperti Pak Kyai rajin jama’ah, rajin puasa, rajin
silaturrohim, atau rajin ibadah lainnya.
Kyai
: ”...terus bagaimana, Mas?
Jam
: ”Ceritanya begini Pak Kyai, pada saat saya sedang nunggu kios saya, ada
seorang gadis menghampiri kios saya bermaksud membeli sesuatu, tiba-tiba saya
dengar suara kentut nyaring sekali. Dugaan saya, suara ketut bersumber dari
gadis cantik ini. Ternyata dugaan saya benar, wajah gadis ini yang semula segar
cantik berubah menjadi pucat kuning hilang cantiknya, Pak Kyai, ...” Seakan
gadis tersebut sedang menahan rasa malu yang sangat berat. Khawatir dikatakan,
”...masak gadis cantik kok ketutnya nyaring..”
Lalu
saya sapa, ” Ada apa mbak, mau beli apa? ” Dia jawab,”... kacang ini sebungkus,
harganya berapa?” Jawab saya, ” Ya kacangnya besar-besar, mau beli Mbak? ”
SAYA BERLAGAK SEPERTI ORANG TULI, yang tidak
bisa mendengar samasekali. Akhirnya, mata anak gadis tersebut langsung menatap
muka saya kuat-kuat, seakan menyakinkan orang yang sedang ditanya ini
benar-benar tuli, apa tidak. Sebab jawabannya kok tidak nyambung samasekali.
Raut wajah gadis yang pucat pun kemudian berangsur pulih kembali, menjadi segar
cantik, tidak malu lagi. Sepertinya ia menyakini saya tuli beneran sehingga
tidak mendengar suara ketutnya.
Kyai
: Hm...hm....
J :
Pak Kyai..., inilah yang membuat Allah menghapus segala salah-dosa saya.
Kyai
: Subhanaallah....
Alkisah
sekian. Semoga bermanfaat....
Dari
kisah pendek di atas dapat dipetik paling tidak empat hikmah :
1.
Tidak setiap sikap pura-pura itu tercela. Kadang sikap pura-pura itu bisa
terpuji, seperti yang dilakukan Jamilun.
2.
Menyembunyikan aib saudara seiman adalah sangat dianjurkan dan sangat
berpahala. Ada sebuah hadits Nabi yang artinya, - kurang lebih- ”Barangsiapa
yang menyembunyikan aib saudaranya yang seiman niscaya Allah menghapus
aib-aibnya di akherat...”
3.
Tidak boleh merendahkan derajat seseorang, karena bisa jadi orang yang
direndahkan lebih tinggi derajatnya di sisi Allah swt daripada orang yang
merendahkan. Sebagaimana Jamilun yang terkesan dipandang rendah karena tidak
rajin ibadah.
4.
Amal baik sekecil apapun akan mendapat balasan yang lebih baik dari Allah swt,
seperti yang dialami Jamilun. Sekian,
terimakasih.... (11 April 2012, Abil As'adain).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan anda berkomunikasi dan bersilaturrohim