Senin, 31 Mei 2010

SI GILA DI SUDUT KOTA

Manusia hidup ini tingkahnya aneh. Termasuk kita juga aneh. Kita sering melakukan sesuatu yang sesungguhnya kalau kita fikirkan sepertinya aneh. Atau memang benar-benar aneh. Hingga kita pantas sepertinya disebut orang gila. Atau memang kita benar-benar gila. Betapa tidak ! Misal, yang Pak Tani pergi-pulang ke sawah setiap hari. Ia cakuli sawahnya. Singkatnya ia kelola sawah itu, hingga sampai panen. Begitu seterusnya berulang-ulang tak mengenal bosan dan ia curah segala tenaga serta fikirannya untuk keberhasilan pertaniannya. Pekerjaannya semuanya nyaris monoton. Demikian ia kerjakan, kemudian apa sih maunya. Yang sopir angkot wira-wiri cari penumpang. Dia naikkan penumpang. Ia angkut ke tempat yang dituju, terus ia turunkan. Ia lakukan begitu terus-menerus tanpa lelah dan bosan. Yang pedagang, ia cari barang dan memaksa ia harus dapat, setelah dapat ia beli. Pada kesempatan lain ia jual barang itu. Lagi-lagi apa maunya sih? Ya, demikian inilah keadaan kehidupan manusia. Segala sesuatunya membutuhkan perjuangan yang hebat, sekalipun pada akhirnya segala sesuatunya harus ditinggalkan begitu saja untuk selama-lamanya. Apalagi pemain sepak bola. Ia mati-matian kejar bola, setelah dapat bolanya ia tendang. Ia kuras tenaga untuk itu, yang tidak jelas manfaatnya. Begitu seterusnya, ia lakukan sepanjang dalam permainan. Kadang, ia harus menyesali berlebihan atas kegalan mengegol bola ke gawang lawan.

Orang banyak yang stres akibat ia yang dalam hidupnya tidak dapat mencapai tujuan dan keinginannya. Orang banyak yang stres karena sifat rakusnya melebihi binatang. Ini benar-benar gila! Kemudian, si gila di sudut kota itu yang waras! Benarkah? Ia terkesan tenang tentram duduk di emperan. Ia tidak butuh sekedar rumah untuk berteduh, apalagi gedung mewah. Ia tidak butuh kasur. Ia cukup beralaskan apa saja untuk tidur. Ia tidak butuh motor, apalagi mobil. Ia cukup jalan kaki ke mana ia pergi. Ia tidak butuh lusinan baju seperti layaknya orang. Ia hanya makan apa adanya. Ia tidak butuh uang. Ia tidak butuh apa yang diperebutkan kebanyakan orang. Ia tak pernah iri dan dengki terhadap keberhasilan orang. Nyaris tidak punya masalah dalam hidupnya, sebab ia tidak memiliki keinginan apapun seperti pada umumnya orang. Alhasil, seyogyanya kita bisa mencotoh si gila di sudut kota itu pada sisi ketidakrakusannya. Artinya, mengecilkan atau mengendalikan keinginan adalah salah satu kunci pencampaian ketentraman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan anda berkomunikasi dan bersilaturrohim