Allah menciptakan kita dari tiada menjadi ada. Allah menciptakan kita dari setetes air mani yang hina menjadi makhluk yang terhormat. Allah menjadikan kita dari seorang bayi yang lemah tak berdaya menjadi manusia dewasa yang kuat perkasa. Allah menjadikan kita dari semula bodoh tak mengerti suatu apapun menjadi makhluk yang paling pintar, mengerti banyak pengetahuan, sehingga dapat mengusai teknologi yang luar biasa, yang dapat merajai jagat dunia. Dengan teknologi informasinya melalui satelit kita melihat peristiwa yang terjadi di belahan dunia dalam waktu yang hampir bersamaan dengan berlangsungnya peristiwa itu. Bahkan dengan teknologi nuklirnya diperkirakan manusia dapat menghancurkan dunia seisinya hanya cukup dengan waktu sekejab.
Allah menjadikan kita kuat bukan untuk saling bermusuhan, sebagaimana sering kita saksikan pada lingkungan kita, atau bahkan pada diri kita sendiri. Allah menjadikan kita kuat bukan untuk menindas yang lemah, seperti yang sering kita lihat, seorang suami menindas isterinya, seorang ayah menindas anaknya, seorang pemimpin menganiaya anak buahnya, seorang guru menganiaya muridnya. Allah menjadikan kita pintar bukan untuk menipu orang lain. Allah memberikan jabatan dan harta kepada kita bukan untuk menghalalkan segala perbutan kita, bertindak semaunya sendiri. Ibarat seorang majikan dapat memecat pegawai atau karyawannya semaunya sendiri. Atas dasar suka atau tidak suka dia bisa melakukan apa saja semaunya.
ٱ قال أناخيرمنه خلقتني من ناروخلقته من طين ٱ
“ Dia (iblis) menjawab: ”Aku lebih baik darinya, Engkau telah menciptakan aku dari api dan Engkau telah menciptakannya dari tanah liat” ( Shod:76).
Sifat ananiyah adalah penyakit hati yang hampir setiap orang memilikinya dan sangat berbahaya, mencelakakan dirinya dan orang orang lain. Dan melemparkan pemiliknya ke jurang api neraka. Sifat ananiyah adalah sifat akuisme, egoisme, sifat yang serba aku. Segala keberhasilan dan kesuksesan dinisbatkan dengan dirinya, tidak dinisbatkan semata-mata Allah Swt. Orang yang memiliki sifat ananiyah akan merasa lebih pandai, lebih mengusai dan tahu segala persoalan, lebih cerdas, lebih kaya, lebih utama, lebih tua, lebih kuat, lebih senior. Orang yang mempunyai sifat ananiyah akan merasa lebih alim, lebih rajin ibadah, lebih mengerti tentang agama, lebih taqwa, lebih dekat kepada Allah, lebih afdlol, lebih berhak menjadi pemimpin. Ia akan selalu memandang rendah orang lain. Oleh sebab itu pantaslah ada makalah sebagian ulama:
وجودك ذنب لايقاس به ذنب
“Keberadaanmu (ananiyah) adalah dosa yang tidak bisa diukur dengan dosa lainnya”
Kenapa ananiyah itu dosa ? Dan dosa ananiyah lebih besar dari dosa-dosa yang lainnya, sebab orang yang mempunyai sifat ananiyah pada dasarnya telah menafikan kehendak dan kuasa Allah Swt. Atau setidak-tidaknya telah menyekutukan Allah Swt dengan dirinya. Naudzubillah mindzalik …!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan anda berkomunikasi dan bersilaturrohim